Guru
adalah salah satu sosok yang berjasa dalam membentuk karakter kita. Banyak orang yang berprofesi
guru tidak menganggap profesinya tersebut sebagai pekerjaan saja tetapi sebagai
sebuah tanggungjawab besar untuk membuat seseorang menjadi insan yang berguna.
Namun tentu tidak bisa
dipungkiri jika tugas tersebut tidaklah mudah.
Berikut ini merupakan
pengalaman guru bernama Najihah Ahmad saat menangani muridnya yang berontak
karena telah ditegur. Pengalaman Najihah tersebut
diposting di akun Facebook nya.
Hari paling sedih sepanjang
bergelar guru.
17
Agustus 2016, merupakan hari paling menyedihkan bagi Najihah sepanjang karirnya
sebagai guru.
Ia dimaki muridnya sendiri
dengan kata-kata yang sangat tidak pantas, setan dan babi.
Padahal apa yang Najihah
lakukan pada murid tersebut sangatlah bertujuan baik.
Suatu hari ketika ia mengajar
di kelas 3, seorang murid melaporkan sesuatu yang membuatnya resah.
"Guru aku melihat Kumbang (bukan nama sebenarnya) memegang payudara Mawar (bukan nama sebenarnya)
tadi," ucap murid tersebut.
Mendengar laporan itu, Najihah
pun segera memanggil Kumbang dan Mawar untuk ditanyai.
"Aku tidak sengaja,"
jawab Kumbang saat itu.
Najihah
pun lega, mana mungkin murid usia 9 tahun melakukan pelecehan seksual pada
teman wanitanya, pikirnya.
Ia pun beralih pada Mawar.
Jawaban dari Mawar justru
sebaliknya.
"Kumbang sengaja,"
katanya.
Setelah ditanyai beberapa kali,
akhirnya Kumbang pun mengaku sengaja melakukannya.
Tapi mereka berdua kompak jika
hal itu hanya untuk bahan bercandaan.
Lemaslah Najihah saat itu,
bagaimana mungkin hal seperti ini menjadi lelucon bagi anak-anak yang bahkan belum
genap 10 tahun?
Najihah
pun mengambil penggaris panjang dari kayu untuk menghukum mereka.
Najihah juga kembali
menjelaskan pada anak-anak tersebut tentang bagian tubuh yang tidak boleh
disentuh lawan jenisnya.
"Ada batas antara lelaki
dan perempuan yang tidak boleh dilanggar, ini adalah peringatan terakhir. Guru
tidak ingin kejadian yang sama terulang lagi," ucapnya dengan intonasi
tegas.
Mereka pun kembali ke kelas
dengan peringatan terakhir itu.
Dikatai
babi dan setan
Setelah kejadian itu, seorang
siswa perempuan lain datang menemui Najihah sambil menyerahkan buku catatan
milik Kumbang.
Mereka mengatakan jika Kumbang menulis tentang Najihah di buku tersebut.
Betapa
terkejut Najihah ketika membaca tulisan Kumbang tentang dirinya.
Dalam buku itu, Kumbang memaki
Najihah dengan kata-kata kasar seperti 'setan' dan 'babi'.
Maka Najihah kembali memanggil Kumbang untuk ditanyai.
Bukannya marah, Najihah justru
memperlakukan Kumbang seperti anaknya sendiri.
"Kamu katakan sejujurnya Kumbang. Guru tidak akan marah, tapi guru ingin tahu, kau marah ke guru?"
"Tidak," jawab Kumbang.
"Kamu menulis ini?
Kumbang pun mulai menangis tersedu.
"Tidak perlu menangis,
katakan sejujurnya, apa kamu menulis ini?"
"Ya."
"Apa perasaanmu ketika
menulis ini?"
"Marah dan malu."
"Baik, guru bisa mengerti,
kamu malu dengan teman-teman bukan?"
Kumbang mengangguk dan tangisnya
semakin kencang.
"Dengar Kumbang, guru marah karena punya alasan. Kamu adalah anak yang baik, setiap pagi
kau datang dan bantu guru angkat barang, guru menyayangimu karena kau baik.
Guru minta maaf jika membuatmu marah. Tak apa kau mengatai guru setan, daripada
suatu hari nanti ibumu yang dimaki orang karena kelakuanmu. Ingat pengorbanan
ibu itu amat besar. Besok jika masih ada yang mempermalukanmu di kelas, kau
lapor pada guru. Guru tegur orang itu."
Mendengar itu, tangis Kumbang pun
semakin menjadi.
Ia terisak sambil berkata lirih
meminta maaf pada gurunya.
Bukan hanya itu, Najihah juga
memberi Kumbang uang untuk menyenangkan hatinya.
Kumbang keluar dari ruangan itu
dengan hati lapang dan senyum mengembang.
"Betapa sucinya anak-anak.
Tidak ada dendam, tidak ada dengki, ini pelajaran bagi saya untuk menjadi lebih
baik lagi. Semoga saya selalu tulus mendidik," tulis Najihah di akhir
penuturannya. ( berita-indoterkini.blogspot.com )

Tidak ada komentar:
Posting Komentar