Penampilan dari seorang pria di atas ranjang, tergantung dari kesehatan ‘Mr. P’ para lelaki.
Kebugaran dan kesehatan alat kelamin pria ini tergantung pada pola hidup dari seorang pria.
Ada sejumlah faktor yang membuat ‘Mr P’ menjadi tak lagi mempunyai kemampuan optimal.
Seperti dikutip dari Kompas.com, ada kalanya kemampuan ereksi bisa padam.
Meski hanya sesekali waktu, seorang pria pasti pernah mengalami disfungsi ereksi atau impotensi.
Namun perlu diwaspadai jika gangguan ini menetap, karena kehidupan
seksual pastinya akan terganggu selain harga diri seorang pria pun
dipertaruhkan.
Maklum saja, kemampuan ereksi erat kaitannya dengan masalah “kejantanan” pria.
Paling tidak, ada tiga tahap penting untuk terjadinya ereksi. Pertama
adalah rangsangan seksual, yang bisa berasal dari indra penglihatan,
pendengaran, perabaan atau pikiran.
Tahap kedua adalah komunikasi rangsangan seksual dari saraf otak ke saraf penis.
Tahap selanjutnya adalah menjadi rileksnya pembuluh darah yang
mensuplai penis sehingga membuat darah lebih banyak masuk ke dalam
struktur silinder sehingga penis menjadi tegang.
Jika terdapat gangguan pada salah satu atau beberapa tahapan ini, maka impotensi atau disfungsi ereksi akan rawan terjadi.
Penyebab gagalnya ereksi secara garis besar dibagi menjadi dua, yakni faktor fisik dan non fisik.
Berikut empat penyebab ‘Mr P’ menjadi loyo.
1. Trauma
Faktor non fisik atau psikis antara lain trauma masa kecil, stres, dan kecemasan.
Apa pun yang membuat seorang lelaki stres dan tidak bisa rileks, dapat membuat vitalitas seksualnya padam.
Sementara itu, kondisi lain yang dapat menyebabkan penis tidak bisa berfungsi adalah
2. Komplikasi penyakit.
Misalnya gangguan saraf akibat diabetes, kelainan pembuluh darah, obat-obatan tertentu atau gangguan hormonal.
3. Konsumsi Obat
Obat darah tinggi dalam jangka panjang misalnya, juga bisa membuat penis loyo.
Oleh karena itu, usahakanlah untuk menurunkan tekanan darah tanpa meminum obat.
4. Obesitas
Penyakit penyebab penis tidak bisa mengeras bukan hanya diabetes, melainkan juga obesitas atau kegemukan.
Menurut pakar andrologi, Prof. dr. Wimpie Pangkahila, secara umum
obesitas akan menyebabkan perubahan pada total jumlah darah dan fungsi
dari jantung.
Distribusi lemak di sekitar dada dan daerah perut dapat membatasi
proses pernapasan dan peredaran darah, yang pada akhirnya akan mengubah
fungsi dari respiratori.
Perubahan ini, kata Wimpie, akan menurunkan fungsi dari organ-organ
yang berkaitan dengan fungsi seksual yang pada akhirnya menghasilkan
gangguan ereksi.
Sementara itu menurut corporate health trainer dr.Phaidon L.Toruan
obesitas dapat menurunkan produksi hormon pria atau testosteron dan free
testosteron (bentuk aktif dari hormon testosteron).
Kondisi ini, menurut Phaidon dapat meningkatkan peluang terjadinya disfungsi ereksi.
“Obesitas meningkatkan berbagai faktor risiko yang berhubungan dengan
turunnya testosteron seperti obstructive sleep apnea (penyumbatan
saluran nafas waktu tidur), resisrensi insulin (diabetes), dan penyakit
sindroma metabolik. Pernyataan tentang ini dibuat Andret Guay dari
Harvard Medical School yang dipublikasikandi Journal Andrology tahun
2009,” ujarnya.
Solusi untuk mengatasi kelebihan lemak yang memicu obesitas, kata
Phaidon, adalah dengan melakukan olahraga secara teratur dan mengatur
diet.
Penggunaan tambahan hormon, seperti hormon testosteron pada pria adalah salah satu alternatif untuk mempermudah usaha. ( newflowertravel.com )

Tidak ada komentar:
Posting Komentar