Sebuah riset ilmiah membuktikan, pada
umumnya wanita lebih sering menggunakan otak kanannya, bagian otak ini
mempunyai keistimewaan dalam daya khayal, emosi, kreasi, dan membenci
ungkapan singkat. Selain itu, mereka senang mengungkapkan perasaannya
dengan bahasa yang lugas, suka mengulang-ulang, dan membisikkan
kata-kata rayuan. Berbeda dengan lelaki yang merasa cukup dengan
mengangguk dan melihat saja. Banyak riset membuktikan berbicara dan
mengungkapkan dengan bahasa lisan termasuk ciri khusus wanita.
Ketika wanita berbicara sebenarnya dia sedang menginginkan berapa hal, yaitu:
1. Ketenangan dan kenyamanan. Dalam
berbicara ada orang yang bersedia turut serta memikirkan masalah yang
dihadapinya. Wanita adalah makhluk lemah yang membutuhkan orang lain,
agar ia merasa ada yang membantu dan mendukungnya. Ketika istri Anda
mengajak bicara, itu artinya dia sengaja mengingatkan dirinya Anda
bersamanya dan turut menanggung beban permasalahannya. Karena itu,
jangan sampai Anda memotong perkataannya, dan jangan Anda memberikan
jalan keluar atas masalah yang sedang dihadapinya. Tapi doronglah dia
untuk meneruskan ucapannya.
2. Cinta baru. Wanita meyakini dialog akan menyegarkan cinta.
3. Berpikir dengan suara keras. Kita semua
tahu, lelaki lebih suka menyendiri dengan permasalahan yang dihadapinya
dan tidak suka orang lain turut campur. Lain dengan wanita yang justru
suka membeberkan permasalahan tersebut bersamanya.
4. Menyampaikan informasi tertentu. Wanita
berpendapat dengan banyak berdialog dapat menyampaikan informasi pada
pihak lain dengan cara yang lebih mengena dan detail.
“Aku tidak punya waktu untuk mendengarkan. Aku ingin istirahat sebentar…!”
itulah ungkapan salah seorang sahabat
ketika saya menyampaikan pentingnya mendengarkan sang istri dan untuk
tidak tersinggung oleh omongannya. Saya bertanya kepadanya,
“Saya lihat kamu sabar mendengarkan
perkataanku dan perkataan puluhan orang yang engkau jumpai selama sehari
yang penuh aktivitas. Jika kamu sabar mendengarkan kami, mengapa ketika
istrimu datang dan berbicara denganmu, kamu justru tidak memberinya
kesempatan?”
Dia menggelengkan kepala sebagai tanda tidak mengakui gugatan saya tadi, lalu saya melanjutkan,
“Siapa yang lebih lelah, lebih capek, dan penuh jerih payah, kamu ataukah Rasulullah?”
Dia menjawab, “Tentu Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam.”
Saya bertanya lagi, “Siapa yang waktunya lebih berharga, kamu atau Rasulullah?”
Dengan raut muka keheranan, dia menjawab, “Tentu Rasulullah. Mengapa kamu mengajukan pertanyaan aneh ini?”
Lalu saya mengatkaan padanya, “Ada sebuah hadits Nabi yang disebutkan dalam Shahih Muslim. Dengarkanlah hadits ini dengan hatimu karena hadits ini panjang dan sangat berharga.”
‘Aisyah meriwayatkan ada 11 wanita yang berjanji dan sepakat untuk menceritakan semua hal tentang suami mereka.
Wanita pertama menceritakan, “Suamiku
ibarat daging unta kerempeng yang berada di puncak gunung tanpa daratan
yang dapat didaki dan tidak ada yang mau mengambilnya.”
Wanita kedua mengatakan, “Aku tidak akan
membeberkan cerita tentang suamiku karena aku takut tidak dapat
berhenti. Kisahnya sangat panjang. Jika aku beberkan, aku takut akan
mengungkap rahasia dan aibnya.”
Wanita ketiga mengeluh, “Suamiku tinggi
sekali. Namun, jika aku bicara, dia akan mentalakku, dan jika aku diam,
dia membiarkanku terkatung-katung”
Wanita keempat memuji, “Suamiku ibarat
udara pegunungan di malam hari, tidak panas dan tidak dingin. Nyaman dan
tidak membosankan.”
Wanita kelima juga memuji, “Suamiku ketika
pulang ke rumah langsung tidur seperti macan (tidur pulas). Ketika
keluar rumah, dia seperti singa (pemberani) dan tidak pernah
mempertanyakan harta bendanya (percaya pada istri).”
Wanita keenam bangga, “Suamiku bila makan
sangat lahap dan bila minum tanpa ada yang tersisa. Apabila tidur, dia
beselimut (sopan) dan tidak meraba-raba aib tubuhku.”
Wanita ketujuh meratap sedih, “Suamiku
seorang yang garang, angker dan pendiam. Semua kejelekan ada pada
dirinya. Dia dapat melukai, memukul atau bahkan melakukan keduanya
padamu.”
Wanita kedelapan memuji, “Suamiku wangi seperti Zarnab (sejenis daun) dan sifatnya terus terang.”
Wanita kesembilan juga memuji, “Suamiku
rumahnya luas dan badannya tinggi. Dia sangat dermawan dan banyak orang
yang mendatangi rumahnya.”
Wanita kesepuluh berkata bangga, “Suamiku
orang kaya. Tidak ada yang lebih kaya darinya. Dia mempunyai banyak unta
yang sering berada di kandang dan jarang keluar. Ketika mendengar suara
tongkat cambuk, unta itu pasrah: dia pasti akan disembelih sebagai
jamuan.”
Wanita kesebelas membuat kiasan, “Suamiku
Abu Zar. Maksudnya apa? Dia memberiku banyak anting-anting, membuatku
gemuk dan bangga. Sebelum menikah, aku hanyalah seorang penggembala
domba. Namun, setelah menjadi istrinya, aku menjadi pemilik kuda dan
unta. Selain itu, aku juga mempunyai ladang yang sangat luas. Setelah
menikah dengannya, aku dapat berbicara semauku tanpa ada yang menghina.
Aku dapat tidur nyenyak dan minum dengan puas.
“Aku Ummu Abu Zar. Maksudnya apa? Seorang wanita yang mempunyai banyak perabot dan rumahnya luas.
“Putraku Ibnu Abu Zar. Maksudnya apa? Dia
mempunyai tempat tidur dari sebilah perlepah kurma dan cukup makan
dengan tulang belikat kambing.
“Putriku Bintu Abu Zar. Maksudnya apa?
Yaitu seorang putri yang taat kepada ayah dan ibunya, bertubuh gemuk dan
membuat iri tetangga.
“Budak Jariyah Abu Zar. Maksudnya apa?
Yaitu seorang budak yang tidak membocorkan rahasia pembicaraan, menjaga
makanan, dan tidak semarangan membuang sampah.
“Suatu hari, Abu Zar keluar tanpa pikir
panjang dan bertemu seorang wanita yang mempunyai 2 putra. Kedua anak
tersebut bermain-main di bawah payudara sang ibu. Karena tergoda,
akhirnya Abu Zar menceraikanku dan menikahi wanita tersebut. Setelah
itu, aku menikah dengan seorang bangsawan penunggang kuda dengan pembawa
tombak. Dia memberiku banyak karunia dan menghidangkan padaku setiap
jenis makanan seraya berkata, ‘Makanlah wahai Ummu Zar’ dan berilah
keluargamu.’ Seandainya seluruh pemberiannya aku kumpulkan, tidak
menyamai perabotan terkecilpun milik Abu Zar.’”
Aisyah melanjutkan, “Rasulullah
menanggapi, ‘Aku bagimu ibarat Abu Zar dan Ummu Zar.’” Dalam riwayat
lain ditambahkan, “Hanya saja aku tidak menceraikanmu.” (HR. Muslim)
Saya melihat sahabatku begitu keheranan
dengan teks hadits yang sanga aneh ini. Sambil tertawa saya mengatakan,
“Tenanglah, kita tidak akan membicarakan makna hadits atau membahas apa
yang dimaksud oleh para wanita tersebut. Saya hanya ingin menyampaikan
padamu, bagaimana Rasulullah setia mendengarkan penuturan sang istri
tanpa memotong ucapannya atau merasa bosan dan malas.
“Lebih dari itu, coba lihat bagaimana
Rasulullah menanggapi penuturan sang istri dengan komentar yang sangat
indah. ‘Aku bagimu ibarat Abu Zar dengan Ummu Zar.’ Hanya saja aku tidak
menceraikanmu’. Mari kita lihat bersama bagaimana Rasulullah –dengan
segala tugas dan tanggung jawab beratnya, masih menyempatkan diri duduk
dan mendengarkan cerita sang istri yang menurut kita tidak ada
manfaatnya. Namun, Rasulullah adalah guru besar kita yang memahami istri
membutuhkan seseorang yang bersedia mendengarkan omongan dan
ceritanya.”
Saya menoleh ke arah sahabatku sambil
tersenyum. Lalu saya berkata, “Pergilah dan biarkan istrimu berbicara.
Dengarkan, pahamilah kebutuhan dan keinginannya. Marilah kita ucapkan
shalawat kepada Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam.”
-aku tidak heran dengan kematian para pencinta dalam hasratnya. Tapi, aku heran dengan keabadian para perindu- [Syahida.com]

Tidak ada komentar:
Posting Komentar